Penelitian – Universitas Jember https://unej.ac.id Working in Harmony, Nurturing the Future Thu, 16 Oct 2025 02:36:59 +0000 en-US hourly 1 https://unej.ac.id/wp-content/uploads/2023/09/cropped-maskable-unej-icon-1-32x32.png Penelitian – Universitas Jember https://unej.ac.id 32 32 Cegah Server Padam, UPA TIK Universitas Jember Ciptakan SmartBLM, Sistem IoT Pemantau BBM Genset Real-Time https://unej.ac.id/blog/2025/10/15/cegah-server-padam-upa-tik-universitas-jember-ciptakan-smartblm-sistem-iot-pemantau-bbm-genset-real-time/ Wed, 15 Oct 2025 08:32:35 +0000 https://unej.ac.id/?p=176533 Jember, 15 Oktober 2025
Untuk mencegah gangguan operasional akibat padamnya listrik, Unit Penunjang Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK) Universitas Jember menciptakan SmartBLM (Smart BBM Level Monitoring), sebuah sistem berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu memantau level bahan bakar genset secara real-time. Melalui sistem ini, petugas dapat mengetahui kapasitas bahan bakar dari jarak jauh dan menerima notifikasi otomatis melalui aplikasi Telegram ketika volume BBM menurun hingga batas tertentu.

Perangkat SmartBLM karya tim UPA TIK yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan

Inovasi ini dikembangkan oleh tim Divisi Infrastruktur Jaringan dan Keamanan Informasi UPA TIK sebagai solusi cerdas untuk mencegah server padam akibat keterlambatan pengisian bahan bakar, sekaligus mendukung efisiensi kerja dan keamanan infrastruktur teknologi kampus. “Selama ini, setiap kali ada pemadaman, petugas teknisi maupun satpam harus berjalan ke lokasi genset untuk mengecek langsung tangki solar. Kadang dilakukan berkali-kali, terutama kalau libur panjang atau malam hari. Dari situ muncul ide, bagaimana kalau dibuat alat seperti indikator bahan bakar di mobil, yang bisa memberi tahu berapa persen solar yang tersisa,” ungkap Rochmad Haryanto, Wakil Koordinator Kelompok Kerja Tata Usaha UPA TIK UNEJ.

Menariknya, ide SmartBLM berawal dari proyek yang telah ada sebelumnya, yaitu sistem pemantauan suhu dan kelembapan ruang server menggunakan sensor yang dikoneksikan dengan mikrokontroler Raspberry Pi. Dari pengalaman tersebut, tim kemudian melakukan penyempurnaan dengan beralih ke ESP32, mikrokontroler yang lebih hemat energi dan terjangkau. “Awalnya kami memantau suhu ruang server. Begitu sensor suhu bisa mengirim data dan notifikasi otomatis ke Telegram, kami berpikir sistem seperti ini juga bisa diterapkan untuk pemantauan solar genset. Dari sinilah SmartBLM lahir,” jelasnya.

SmartBLM memanfaatkan sensor ultrasonik untuk mengukur tinggi permukaan solar di dalam tangki. Data tersebut diolah oleh prosesor ESP32 dan ditampilkan dalam bentuk persentase volume bahan bakar, lengkap dengan estimasi liter. Ketika volume BBM turun hingga batas 30–40 persen, sistem secara otomatis mengirimkan peringatan melalui aplikasi Telegram agar petugas segera melakukan pengisian ulang.

Wakil Koordinator Kelompok Kerja Tata Usaha UPA TIK UNEJ, Rochmad Haryanto saat memberikan penjelasan terkait terciptanya SmartBLM

Bentuk SmartBLM tergolong mungil, hanya seukuran kotak kecil yang menempel di sisi tangki genset. Namun kemampuannya tidak main-main. Di dalamnya terdapat mini UPS yang membuat alat tetap aktif meski listrik padam. Dengan begitu, sistem tetap bisa memantau bahan bakar pada saat paling dibutuhkan. “Begitu listrik padam, alat ini tetap hidup beberapa waktu karena ada baterai internalnya. Jadi datanya tidak hilang dan notifikasi tetap bisa terkirim,” jelas Rochmad.

Seluruh proses, mulai dari ide, perakitan alat, hingga integrasi dengan aplikasi, diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu oleh tim UPA TIK. Dalam pengembangannya, tentunya tim menghadapi sejumlah tantangan teknis, terutama dalam kalibrasi sensor ultrasonik agar dapat membaca ketinggian solar dengan akurat. Proses trial and error dilakukan hingga posisi dan sudut sensor benar-benar sesuai. “Sensor ultrasonik itu sensitif. Kalau posisinya miring sedikit saja, pembacaannya bisa meleset. Kami sempat gagal beberapa kali sampai akhirnya dikustomisasi posisi sensornya agar hasilnya akurat,” kenang Rochmad.

Informasi pemberitahuan terkait volume BBM pada genset yang dihasilkan dari perangkat SmartBLM

Kesuksesan SmartBLM tak membuat tim berhenti berinovasi. Ke depan, mereka berencana menambahkan modul GSM agar alat tetap bisa bekerja tanpa koneksi Wi-Fi, serta memanfaatkan energi surya untuk membuat sistem sepenuhnya mandiri. “Kami ingin alat ini tak hanya bermanfaat untuk kampus, tapi juga bisa jadi inspirasi bagi instansi lain. Kalau bisa dibuat sendiri dan hemat, kenapa harus beli mahal?” ujar Rochmad.

Bagi UPA TIK, SmartBLM bukan sekadar alat pemantau bahan bakar. Ia adalah simbol semangat kemandirian teknologi Universitas Jember, bahwa inovasi tak selalu harus besar, tapi harus berdampak nyata. Ketika teknologi lahir dari kebutuhan sendiri dan diciptakan oleh tangan-tangan kampus sendiri, di sanalah kampus berdampak benar-benar terasa. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Penelitian

]]>
Rokok Picu Katarak, Temuan Dosen Keperawatan UNEJ Tegaskan Pentingnya Berhenti Merokok https://unej.ac.id/blog/2025/09/11/rokok-picu-katarak-temuan-dosen-keperawatan-unej-tegaskan-pentingnya-berhenti-merokok/ Thu, 11 Sep 2025 03:04:43 +0000 https://unej.ac.id/?p=175850 Jember, 11 September 2025

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Jember (UNEJ). Kali ini, Ns. Siswoyo, S.Kep., M.Kep, dosen Fakultas Keperawatan UNEJ, berhasil meraih Silver Medal dalam ajang bergengsi The 9th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Ophthalmic Association (PIT Ikatan Perawat Mata Indonesia/IPKAMI) yang diselenggarakan di Bandung pada 22–24 Agustus 2025.

Penghargaan ini diberikan atas karya ilmiah berjudul “Hubungan Derajat Merokok dengan Stadium Katarak pada Pasien Katarak Senilis di RS Tipe B Jember”. Penelitian yang dilakukan oleh Siswoyo mengangkat isu yang dekat dengan masyarakat, yakni hubungan antara kebiasaan merokok dengan risiko katarak senilis. Melalui pendekatan kuantitatif dengan teknik simple random sampling dan jumlah sampel yang representatif, penelitian ini menemukan hubungan signifikan antara derajat merokok dengan stadium katarak pada pasien di RS Tipe B Jember.

Siswoyo ketika mempresentasikan karya ilmiah berjudul “Hubungan Derajat Merokok dengan Stadium Katarak pada Pasien Katarak Senilis di RS Tipe B Jember”

“Merokok menyebabkan toksin beredar dalam tubuh, termasuk ke sirkulasi mata. Ini memicu stres oksidatif yang mempercepat perubahan struktur lensa hingga menjadi keruh atau katarak,” jelasnya.

Temuan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk mempertimbangkan kembali kebiasaan merokok, karena berdampak langsung terhadap kesehatan mata.

Selain itu, pendekatan metodologis yang digunakan Siswoyo dinilai sebagai inovasi dari penelitian sebelumnya, khususnya dalam konteks keperawatan mata yang masih membutuhkan banyak kajian ilmiah berbasis bukti.

Siswoyo dalam kegiatan pembelajaran bersama mahasiswa Fakultas Keperawatan UNEJ

Kompetisi ini merupakan bagian dari Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-9 yang diadakan oleh IPKAMI, organisasi profesional perawat mata di Indonesia. Tidak hanya memfasilitasi simposium dan workshop ilmiah, kegiatan ini juga menjadi ruang kompetitif bagi para perawat dari berbagai penjuru tanah air, dari Sabang hingga Merauke, untuk menyampaikan hasil penelitian terbaik mereka.

Atmosfer kompetisi disebut Siswoyo sangat luar biasa, diwarnai dengan semangat kolaborasi sekaligus kompetisi ilmiah yang sehat. Penilaian dalam kompetisi paper ilmiah ini mencakup aspek performance saat presentasi, kesisteman dalam penyampaian, dan ketajaman dalam menjawab pertanyaan juri.

Sebagai penutup, Siswoyo mendorong para mahasiswa dan peneliti muda untuk tidak ragu berkarya dan berkompetisi di level nasional. “Jangan berhenti menulis dan terus berani mengikuti forum-forum ilmiah. Di situlah kita belajar dan melihat sejauh mana karya kita bermanfaat bagi masyarakat. Semangat!” pesannya.

Siswoyo, dosen Fakultas Keperawatan UNEJ, peraih Silver Medal The 9th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Ophthalmic Association

Prestasi ini sekaligus memperkuat posisi Universitas Jember sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif mendorong riset terapan, khususnya di bidang keperawatan dan kesehatan masyarakat. (dil)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Penelitian

]]>
Harga Tomat Anjlok? Jangan Panik, Saatnya Petani dan Pelaku Usaha Berinovasi! https://unej.ac.id/blog/2025/08/29/harga-tomat-anjlok-jangan-panik-saatnya-petani-dan-pelaku-usaha-berinovasi/ Fri, 29 Aug 2025 05:03:32 +0000 https://unej.ac.id/?p=175655 Jember, 29 Agustus 2025

Musim panen yang melimpah sering kali menjadi kabar baik sekaligus tantangan bagi para petani tomat. Saat produksi berlebih dan jalur distribusi belum optimal, harga tomat di pasaran kerap anjlok. Namun, menurut Dr. Nurhayati, S.TP, M.Si., dosen dari program studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (UNEJ), kondisi ini justru menjadi momentum emas untuk berinovasi.

“Ketika harga tomat sedang murah karena overproduksi, kita tidak bisa hanya pasrah. Inovasi teknologi adalah kunci agar tomat tidak cepat rusak, punya nilai tambah, dan bisa dipasarkan lebih luas,” ujar Nurhayati.

Dr. Nurhayati, S.TP, M.Si., dosen program studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) FTP UNEJ

Dosen UNEJ ini menjelaskan, ada banyak cara untuk mengolah tomat menjadi produk yang lebih bernilai. Inovasi ini bisa dimulai dari skala rumahan hingga industri besar. Beberapa produk olahan bernilai tinggi yang bisa diolah dari tomat antara lain:
– Pasta, saus, dan pure tomat: Produk ini jauh lebih awet dan bisa menjadi bahan baku untuk industri makanan.
– Jus tomat: Dengan menambahkan vitamin atau mineral, jus tomat bisa menjadi minuman fungsional yang menyehatkan.
– Selai tomat: Ini bisa menjadi alternatif selai buah yang unik dan menarik.
– Tomat kering (sun-dried tomato): Produk ini sangat populer di kuliner internasional dan memiliki harga jual yang tinggi.

Selain itu, bisa menuju pengolahan berbasis teknologi modern:
– Bubuk tomat (spray drying): Bubuk ini bisa dimanfaatkan sebagai bumbu, bahan sup instan, atau mie instan.
– Freeze drying: Teknologi ini menjaga warna merah dan kandungan antioksidan (likopen) dalam tomat.
– Fermentasi: Tomat bisa difermentasi menjadi anggur tomat (tomato wine), cuka tomat, atau produk probiotik.

Selain itu, inovasi juga bisa menyentuh ranah pangan fungsional, seperti ekstraksi likopen yang bermanfaat untuk suplemen kesehatan dan kosmetik. Bahkan, kulit dan biji tomat yang sering dianggap limbah ternyata kaya akan antioksidan dan bisa diolah menjadi bahan dasar kosmetik atau pewarna alami.

Nurhayati sendiri telah membuktikan pentingnya inovasi melalui risetnya yang berhasil mendapatkan paten. Ia adalah salah satu peneliti yang berhasil mematenkan teknologi pengolahan berbagai komoditas, seperti lombok terong khas Tengger menjadi saus (IDS000010441), kedelai menjadi keju tahu (IDP000074819), dan pengolahan limbah pisang menjadi pektin (IDP000071851).

“Inovasi dengan formula dan cita rasa spesifik berpotensi untuk dipatenkan. Ini memberikan nilai ekonomi dan perlindungan hukum bagi produk kita,” jelasnya.

Menurut Nurhayati, diversifikasi produk memiliki banyak keuntungan. Selain mengurangi kerugian petani saat harga anjlok, inovasi ini juga membuka pasar baru dan mendorong munculnya UMKM dan industri pangan yang lebih inovatif.

“Peran universitas sangat vital sebagai jembatan alih teknologi pengolahan kepada para pelaku UMKM dan industri. Kami bisa memfasilitasi jejaring bisnis agar produk olahan tomat bisa tersalurkan dengan baik,” jelasnya.

Nurhayati menyampaikan harapannya kepada seluruh pemangku kepentingan, baik petani maupun pelaku industri. Kepada petani, ia berpesan agar mereka memiliki pola tanam yang jelas, disesuaikan dengan iklim dan musim. Petani juga diharapkan dapat menjalin koneksi yang baik dengan sesama petani untuk mencegah penumpukan hasil panen. Ia juga mengimbau petani agar mengoptimalkan perawatan demi menghasilkan komoditas berkualitas dan meminimalkan penggunaan pestisida.

Sementara itu, untuk pelaku industri, Dr. Nurhayati berharap mereka dapat membeli produk petani. “Petani adalah soko guru (fondasi utama) ketahanan pangan dan perekonomian kita, baik di tingkat lokal maupun nasional. Jika petani sejahtera, daya beli masyarakat akan meningkat dan dampaknya juga akan kembali ke industri,” tutupnya. (dil)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Penelitian

]]>