Praktisi Mengajar – Universitas Jember https://unej.ac.id Working in Harmony, Nurturing the Future Tue, 14 Oct 2025 05:16:04 +0000 en-US hourly 1 https://unej.ac.id/wp-content/uploads/2023/09/cropped-maskable-unej-icon-1-32x32.png Praktisi Mengajar – Universitas Jember https://unej.ac.id 32 32 OJK Gandeng Universitas Jember Sosialisasikan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2025 https://unej.ac.id/blog/2025/10/14/ojk-gandeng-universitas-jember-sosialisasikan-edukasi-pasar-modal-terpadu-2025/ Tue, 14 Oct 2025 05:16:04 +0000 https://unej.ac.id/?p=176484 Jember, 14 Oktober 2025
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Universitas Jember (UNEJ) dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2025 yang digelar di Lantai 5 Gedung Soedjarwo Universitas Jember (14/10/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh sedikitnya 500 mahasiswa lintas fakultas, serta menghadirkan berbagai narasumber dari OJK dan industri pasar modal.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Jember, Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai bagian dari Astacita Presiden dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, kampus adalah ruang terbaik untuk menanamkan pemahaman tentang pengelolaan keuangan dan investasi sejak dini.

Rektor Universitas Jember, Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., kala memberikan sambutannya

“UNEJ sebagai perguruan tinggi negeri di kawasan Tapalkuda memiliki tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan anak bangsa melalui literasi keuangan. Pasar modal bukan hanya ruang investasi, tetapi juga wahana pembelajaran ekonomi yang nyata bagi mahasiswa,” ujarnya.

Kuliah umum utama disampaikan oleh Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK. Ia mengungkapkan, tingkat literasi pasar modal di Indonesia tahun 2025 masih berada pada angka 17,78%, sementara tingkat inklusi hanya 1,34%, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025.

“Angka ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen pasar modal. Padahal, pasar modal berperan penting dalam pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Kuliah umum utama disampaikan oleh Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK

Ia juga menyoroti peningkatan jumlah investor pasar modal di Indonesia yang mencapai pertumbuhan 24,06% dengan penambahan 2,7 juta investor baru pada tahun 2025, melampaui target tahunan. Data KSEI mencatat bahwa 113 ribu Single Investor Identification (SID) berasal dari Kabupaten Jember, menjadikan Jawa Timur salah satu wilayah dengan pertumbuhan investor tertinggi.

Dalam kesempatan itu juga, ia mengingatkan mahasiswa untuk berhati-hati terhadap investasi ilegal dan memahami prinsip “LEGAL dan LOGIS” sebelum memilih produk keuangan. Ia menegaskan pentingnya memastikan setiap produk memiliki izin dari otoritas berwenang serta memahami risiko dan manfaat yang ditawarkan.

Kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2025 ini menjadi wujud nyata sinergi antara OJK dan perguruan tinggi dalam membangun generasi muda yang melek finansial, berintegritas, dan siap berkontribusi dalam penguatan ekonomi nasional.

“Literasi yang kuat akan menjadi pondasi agar mahasiswa tidak hanya memahami peluang investasi, tetapi juga mampu mengambil peran nyata dalam memperkuat perekonomian bangsa,” tutupnya.

Selain kuliah umum, kegiatan ini juga menghadirkan lima narasumber yang memberikan materi mendalam mengenai ekosistem pasar modal nasional, diantaranya Cecep Setiawan, Kepala Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Abdul Hadie, Kepala Divisi Perencanaan Strategis dan Manajemen Risiko Korporasi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, Haryati Handayani, Kepala Divisi Penyelesaian Transaksi dan Administrasi Layanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan Fajar Wahyu Prianto, S.E., M.E., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.(is)

]]>
UNEJ Kuatkan Karakter Mahasiswa Melalui Kuliah Umum MKWK: Generasi Muda Ditantang Hidupkan Pancasila di Era Digital https://unej.ac.id/blog/2025/10/09/unej-kuatkan-karakter-mahasiswa-melalui-kuliah-umum-mkwk-generasi-muda-ditantang-hidupkan-pancasila-di-era-digital/ Thu, 09 Oct 2025 01:51:21 +0000 https://unej.ac.id/?p=176431 Jember, 9 Oktober 2025

Universitas Jember (UNEJ) menunjukkan komitmennya dalam penguatan karakter kebangsaan mahasiswa melalui penyelenggaraan Kuliah Umum Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), pada Kamis (9/10). Bertempat di Gedung Auditorium UNEJ, kegiatak bertajuk “Generasi Muda dan Tantangan Kebangsaan: Menghidupkan Pancasila di Era Digital”. Acara ini menghadirkan pakar kebangsaan Yudi Latif, sebagai narasumber utama.

Kuliah umum ini menjadi momentum UNEJ dalam memperkuat karakter mahasiswa dengan fondasi Pancasila di tengah arus informasi global yang menantang. Kuliah umum ini diikuti lebih dari 5.000 mahasiswa baru, baik secara luring maupun daring melalui kanal Youtube. Hadir pula jajaran pimpinan universitas, Ketua Senat, para dosen MKWK, dan perwakilan fakultas untuk mendukung penuh pelaksanaan kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UNEJ.

Wakil Rektor I UNEJ menyerahkan cendera mata kepada Yudi Latif

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik UNEJ, Prof. Slamin, yang hadir mewakili Rektor, menekankan bahwa mahasiswa adalah ujung tombak dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di era digital yang penuh paradoks. “Teknologi memang mendekatkan yang jauh, namun seringkali menjauhkan yang dekat. Tantangan kita adalah bagaimana Pancasila tetap menjadi panduan moral, terutama bagi generasi muda yang setiap hari bergelut dengan dunia digital,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala LPMPP UNEJ, Prof. Ermanto, menegaskan bahwa kuliah umum ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan bagian dari strategi UNEJ membentuk generasi muda yang tangguh secara intelektual dan karakter. “Era digital membuat kita rentan terjebak dalam misinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi. Karena itu, mahasiswa harus mampu menjawab tantangan ini dengan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata maupun ruang digital,” jelasnya.

Kepala LPMPP, Prof. Ermanto Fahamsyah menyampaikan laporan

Narasumber utama, Yudi Latif, memberikan paparan mendalam mengenai Wawasan Kebangsaan. Beliau memaparkan hasil survei yang mencemaskan, yaitu laporan Digital Civility Index dari Microsoft (2021) di mana Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan tabiat bermedsos yang paling barbar di Asia Pasifik

Yudi Latif, menyebutkan bahwa kondisi ini terjadi karena kelemahan yang menghinggapi generasi muda hari ini, yaitu kelemahan pada “actuarial intelligence” dan daya empati. Actuarial intelligence didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menerka dan membayangkan dampak dari suatu tindakan —seperti memposting sesuatu— bagi martabat diri sendiri dan kehidupan bersama. “Kadang-kadang di dalam perilaku bermedsos kita itu asal jeplak, asal viral. Kita enggak punya lagi daya empati,” ujarnya.

Cendekiawan Pancasila Yudi Latif memberikan kuliah umum bagi maba UNEJ

Lebih lanjut, Yudi Latif mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang secara historis merupakan negeri yang hebat, menjadi “episentrum inovasi global” hingga abad ke-17 dan dikenal sebagai the cradle of maritime culture (tempat tumbuhnya peradaban maritim pertama). Ia menekankan bahwa kekuatan karakter yang menyatukan bangsa ini di tengah keragaman adalah Gotong Royong. Karakter ini terbukti masih hidup, bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia selama tiga tahun berturut-turut menurut The World Giving Index.

Namun, beliau memberi catatan kritis, nilai gotong royong yang positif di masyarakat seringkali bertransformasi menjadi negatif ketika masuk ke dalam dunia politik dan kenegaraan, seperti dalam bentuk korupsi berjamaah.

Kuliah Umum ditutup dengan seruan optimisme dan tantangan bagi mahasiswa. Yudi Latif menekankan bahwa Indonesia memiliki semua alasan untuk menjadi bangsa maju berkat sumber daya alam dan sejarah yang cemerlang. “Yang diperlukan adalah kenali dirimu dan jadilah versi terbaik dari dirimu. Itulah jalan Pancasila dengan mengaktualisasikan potensi kita,” tutupnya dengan harapan. (qf)

]]>
FKG UNEJ Gelar 3rd International Conference and dental Exhibition (ICoDE) 2025 https://unej.ac.id/blog/2025/10/03/fkg-unej-gelar-3rd-international-conference-and-dental-exhibition-icode-2025/ Fri, 03 Oct 2025 07:51:02 +0000 https://unej.ac.id/?p=176357 Jember, 3 Oktober 2025
Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember kembali mengukuhkan kiprahnya di tingkat internasional dengan menyelenggarakan 3rd International Conference and Dental Exhibition (ICoDE) 2025 pada 3-4 Oktober 2025 di Auditorium Universitas Jember. Konferensi internasional yang dilaksanakan selama dua hari ini mengangkat tema “The Improvement of Recent Science and Technology in Dentistry in the Era of Society 5.0”. Tema ini mencerminkan semangat inovasi, kolaborasi, dan integrasi teknologi yang tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam praktik maupun penelitian di bidang kedokteran gigi. Tahun ini, sekitar 500 peserta hadir, mulai dari mahasiswa, dokter gigi umum, hingga dokter gigi spesialis dari berbagai wilayah Indonesia.

Dalam sambutannya, Dekan FKG UNEJ, drg. Dwi Kartika Apriyono, menegaskan komitmen fakultas dalam memajukan ilmu kedokteran gigi melalui konferensi internasional. “Konferensi ini adalah bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan daya saing akademik, riset, dan pengabdian di tingkat internasional. Melalui ICoDE 2025, kami berharap semua peserta dapat memperoleh pengetahuan berharga dan membangun kolaborasi lintas institusi maupun generasi,” ungkapnya.

Dekan FKG UNEJ, drg. Dwi Kartika Apriyono saat memberikan sambutan pada acara ICoDE 2025 di gedung Auditorium Universitas Jember.

Sementara itu, rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, secara resmi membuka acara dengan menekankan relevansi tema konferensi di era global saat ini. “Society 5.0 adalah era ketika teknologi dan inovasi yang berpusat pada manusia hadir untuk menjawab tantangan, termasuk di dunia kedokteran gigi. Konferensi ini menyediakan platform penting untuk berbagi penelitian mutakhir, inovasi, dan pengalaman klinis. Saya mendorong semua peserta untuk terlibat aktif berbagi pengetahuan, dan membangun jejaring yang berdampak jangka panjang bagi profesi ini,” tutur Rektor UNEJ.

Acara bergengsi ini menghadirkan para pakar kedokteran gigi dari dalam dan luar negeri sebagai pembicara utama, diantaranya Prof. Dr. h.c. H.J. Jentsch (Jerman), Dr. Peter Zilm (Australia), Prof. Nobuhiro Yoda, Ph.D. (Jepang), Kai-Chiang Yang, Ph.D. (Taiwan), Dr. Faeza Binti Rokhani (Malaysia), Prof. Dr. Sindy C. Nelwan (Indonesia), Prof. Dr. Ida Bagus Narmada, drg., Sp.Ort(K) (Indonesia), Wahyuni Suci Dwiandhany, drg., Sp.KG.Subsp.R.K(T), Ph.D. (Indonesia), dan Dhanni Gustiana, drg., Sp.BM, Subsp.TM(K), UKD (Indonesia).

Sambutan serta pembukaan konferensi internasional FKG UNEJ oleh rektor Universitas Jember, Iwan Taruna.

Sebagai penguatan materi ilmiah pada hari pertama ini, ICoDE 2025 menghadirkan plenary speaker dari berbagai negara dengan topik terkini di bidang kedokteran gigi. Prof. Jentsch dari Universität Leipzig Medizinische Fakultät, Jerman, membawakan materi “European/German Concepts of Periodontal Disease and the Treatment” yang menekankan pendekatan mutakhir dalam diagnosis dan terapi penyakit periodontal di Eropa. Sementara itu, Prof. Nobuhiro Yoda dari Tohoku University, Jepang, menyampaikan secara daring paparan “Biomechanical and Mechanbiological Consideration of Peri-implant Bone Remodeling”, yang membedah aspek biomekanik dan biologis dalam proses remodeling tulang pada perawatan implan gigi. Kehadiran keduanya menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan dasar dengan praktik klinis untuk meningkatkan hasil perawatan pasien.

Prof. Jentsch dari Universität Leipzig Medizinische Fakultät, Jerman, membawakan materi “European/German Concepts of Periodontal Disease and the Treatment”.

Selain itu, Prof. Ida Bagus Narmada dari Universitas Airlangga, Indonesia, memberikan paparan “Interceptive Orthodontic Treatment” yang menekankan strategi intervensi dini dalam perawatan ortodonti untuk mencegah masalah yang lebih kompleks di kemudian hari. Sedangkan Prof. Dr. Sindy Cornelia Nelwan juga dari Universitas Airlangga, menghadirkan materi “Malocclusion in Children: The Role of Modern Technology in Shaping Smile in Society 5.0”, dengan fokus pada pemanfaatan teknologi modern untuk mengatasi maloklusi pada anak sekaligus membentuk senyum sehat di era digital.

Dental Exhibition yang diselenggarakan bersamaan dengan konferensi internasional ICoDE 2025 oleh FKG UNEJ.

Selain kuliah utama, ICoDE 2025 juga menampilkan sesi hands-on, presentasi oral dan poster, dental exhibition, hingga temu alumni. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat jejaring akademik internasional, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda kedokteran gigi Indonesia untuk berperan sebagai agen perubahan dalam peningkatan kualitas kesehatan gigi dan mulut di masa depan. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #PraktisiMengajar

]]>
Kupas Smart City di Indonesia Lewat Kuliah Umum FISIP UNEJ Bersama Citiasiainc https://unej.ac.id/blog/2025/09/26/kupas-smart-city-di-indonesia-lewat-kuliah-umum-fisip-unej-bersama-citiasiainc/ Fri, 26 Sep 2025 09:48:20 +0000 https://unej.ac.id/?p=176189 Jember, 26 September 2025

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ) menggelar kuliah umum bertajuk “Smart City di Indonesia” dengan menghadirkan Hari Kusdaryanto, Chief Innovation Citiasiainc, sebagai narasumber utama.

Dalam kuliah umum ini, Hari Kusdaryanto memaparkan konsep smart city sebagai strategi pembangunan kota yang mengintegrasikan teknologi digital, inovasi, dan partisipasi masyarakat untuk menciptakan tata kelola kota yang efektif, efisien, serta berkelanjutan sesuai dengan kata kuncinya.

“Ada tiga kata kunci itu pemanfaatan teknologi, kolaborasi, dan inovasi. Ada 80 Indikator standart bisa dikatakan sebagai smart city. Smart city bukan hanya sekadar layanan, tetapi semua aspek di dalam dan di luar pemerintahan,” ungkapnya.

Suasana kuliah umum bertema “Smart City di Indonesia” yang digelar FISIP UNEJ, Kamis sore (25/09/2025)

Heri juga menjelaskan mengenai peran kampus dalam mendukung smart city. “Peran kampus dengan melakukan analisis dan formulasi regulasi dokumen seperti RPJMD, Masterplan, Blueprint, NA, Perda, dan Perkada. Selain itu, capacity building dan kompetisi, living lab, studio project, inkubasi start up/UKM, komunitas seperti relawa TIK, peduli sampah, ekonomi kreatif, dan sebagainya. Forum-forum tematik smart city ini harus ada, juga fungsi pengabdian masyarakat dan penelitian. Di sini, kampus dapat berperan dari mahasiswa maupun dosen,” tambahnya.

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan kritis mengenai implementasi smart city di daerah asal mereka, termasuk peluang dan tantangan yang akan dihadapi.

Antusiasme mahasiswa dalam menyampaikan pertanyaan kepada narasumber pada sesi diskusi

“Kami, sebagai mahasiswa UNEJ, menyadari bahwa kami adalah aktor kunci dalam mewujudkan visi Smart City di Indonesia. Kami tidak hanya belajar konsep, kami siap menjadi ujung tombak melalui living lab kampus, mengembangkan start-up berbasis solusi lokal, dan memanfaatkan bekal administrasi publik untuk menganalisis dan merumuskan kebijakan yang mendukung tata kelola kota yang efektif, canggih, dan berkelanjutan,” ujar salah satu mahasiswa.

Melalui kegiatan ini, berguna untuk memperluas wawasan mahasiswa, khususnya di bidang administrasi publik, agar mampu memahami isu-isu strategis pembangunan nasional serta membangun kesiapan menghadapi transformasi digital di sektor pemerintahan.

Hari Kusdaryanto, Chief Innovation Citiasiainc, saat memaparkan materi dalam kuliah umum di Aula FISIP UNEJ

Kegiatan yang dipandu oleh moderator Dr. Masasib Akmal Vyandry, S.AP., M.A.P., dosen FISIP UNEJ ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi (Prodi) Administrasi Negara pada Kamis sore (25/09/2025) di Aula FISIP UNEJ. (dil/elz)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #PraktisiMengajar

]]>
FISIP UNEJ Angkat Isu Pendanaan Lingkungan: Mengenal Ecological Fiskal Transfer Bersama Generasi Muda https://unej.ac.id/blog/2025/09/25/fisip-unej-angkat-isu-pendanaan-lingkungan-mengenal-ecological-fiskal-transfer-bersama-generasi-muda/ Thu, 25 Sep 2025 04:53:18 +0000 https://unej.ac.id/?p=176111 Jember, 25 September 2025

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ) menggelar seminar bertajuk “Ecological Fiskal Transfer-Goes to Campus: Keterlibatan Generasi Muda dalam Memperkuat Pendanaan Lingkungan Hidup” di Aula FISIP UNEJ pada (25/09). Acara ini menyoroti pentingnya Ecological Fiscal Transfer (EFT), sebuah skema insentif fiskal berbasis ekologi yang memberi penghargaan kepada daerah dengan kinerja baik dalam menjaga lingkungan.

Seminar ini menghadirkan pembicara lintas bidang, diantaranya: Rabin Ibnu Zainal, Direktur Perkumpulan Pilar Nusantara (PINUS), Hermanto Rohman, Dosen Administrasi Negara FISIP UNEJ, serta Nurussyamsil Hidayah, Peneliti dan Pegiat Lingkungan Ijen Cendekia Nusantara (ICN). Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa pendanaan lingkungan bukan sekedar proyek hijau, melainkan strategi kebijakan fiskal yang adil dan berkelanjutan untuk masa depan bumi.

Rabin Ibnu Zainal, Direktur Perkumpulan Pilar Nusantara (PINUS) kala memberikan materi terkait dengan Ecological Fiscal Transfer (EFT).

Dalam paparannya, Rabin Ibnu Zainal menekankan pentingnya membangun kebijakan fiskal yang lebih adil secara ekologis. Ia menyoroti alokasi anggaran lingkungan hidup di Indonesia yang masih kurang dari satu persen, serta ketidakadilan bagi daerah penjaga hutan yang menerima dana lebih kecil dibandingkan degan daerah yang memiliki sumber daya tambang.

“Kebijakan yang ada belum mampu mengubah perilaku masyarakat agar lebih hijau. Karena itu, kita perlu mendorong skema baru seperti EFT. EFT ini sudah diterapkan di negara Eropa, dan kini mulai diinisiasi di Indonesia. Kalau diperkuat, daerah yang menjaga lingkungan akan mendapat insentif nyata dari pemerintah,” jelasnya.

Hermanto Rohman, Dosen Administrasi Negara FISIP UNEJ, saat memaparkan Peran Perguruan Tinggi dalam Mendorong Perlindungan Lingkungan.

Sementara itu, Hermanto Rohman, dosen Administrasi Negara FISIP UNEJ, dalam paparannya menyoroti kegelisahan para pegiat lingkungan yang selama ini sudah banyak bergerak, namun belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah maupun pihak lain. Bahkan, indikator lingkungan tidak muncul dalam rancangan APBD Kabupaten Jember 2025.

“Masalah lingkungan yang paling dekat dengan kita adalah sampah, banjir dan pencemaran sungai. Sebetulnya semua masalah ini akibat ulah manusia, termasuk kita sendiri. Sebagai mahasiswa juga jangan hanya jadi bagian dari masalah, tapi juga harus terketuk hatinya untuk menjadi pembela lingkungan,” tegasnya.

Selain itu menurut Hermanto, kontribusi mahasiswa dalam menjaga ekologis serta mendukung peran EFT dapat diwujudkan melalui penelitian, seperti menjadikan isu lingkungan dan kebijakan fiskalnya sebagai bahan skripsi hingga keterlibatan dalam KKN dan program pengabdian masyarakat yang fokus pada isu lingkungan. “Minimal melalui riset, misalnya skripsi yang menganalisis kebijakan atau program terkait lingkungan, mahasiswa sudah ikut menyumbang solusi dari permasalahan ini,” tambahnya.

Nurussyamsil Hidayah, Pegiat Lingkungan Ijen Cendekia Nusantara (ICN) memberikan materi terkait Konsekuensi dan Pendekatan untuk Mendukung Kehidupan Berkelanjutan.

Selanjutnya Nurussyamsil Hidayah, pegiat dari ICN memaparkan kondisi Bondowoso yang menghadapi masalah serius seperti rendahnya kualitas air, alih fungsi lahan, dan produksi sampah yang mencapai 60 ton per hari. Meskipun memiliki regulasi daerah, implementasi dan anggarannya menurutnya masih minim. “Bondowoso memang punya perda dan perbup tentang lingkungan, tapi implementasinya belum maksimal. Kalau ini tidak segera diatasi, Bondowoso bisa mengalami krisis ekologi,” ungkap Iday.

Sebagai solusi, Iday menuturkan bahwa ICN mendorong penerapan EFT di tingkat kabupaten dan desa. Menurutnya, kunci keberhasilan program ini adalah komitmen kepala daerah, kolaborasi lintas pihak, dan keterlibatan generasi muda. “Menjaga lingkungan itu investasi, bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak-anak dan generasi mendatang. Semua kontribusi sekecil apa pun, sangat berarti untuk menciptakan bumi yang lebih baik,” tegasnya.

Acara seminar kemudian ditutup dengan penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara FISIP Universitas Jember dengan Pilar Nusantara (PINUS) dan CityAsiaInc. Penandatanganan ini menjadi wujud nyata kolaborasi untuk memperkuat kajian serta imlementasi kebijakan fiskal berbasis ekologi di Indonesia.

Melalui seminar dan Mou ini, FISIP Universitas Jember menegaskan komitmennya untuk mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam isu-isu strategis lingkungan. Dengan bekal akademik, riset, dan semangat kolaborasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa gagasan dan aksi nyata demi masa depan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Praktisi mengajar

]]>
Mahasiswa FK UNEJ Dapat Kuliah Kesehatan Finansial https://unej.ac.id/blog/2025/09/09/mahasiswa-fk-unej-dapat-kuliah-kesehatan-finansial/ Tue, 09 Sep 2025 09:51:02 +0000 https://unej.ac.id/?p=175832 Jember, 9 September 2025
Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ) menggelar kuliah khusus bertema “Menggali Inspirasi dari Ilmu Bedah Saraf hingga Kesehatan Finansial” di Auditorium Avicenna, Senin (8/9) pagi lalu. Menariknya, selain menerima kuliah dari pakar yang memang berkecimpung di bidang kesehatan, mahasiswa FK UNEJ juga menerima kuliah dari pengusaha nasional, Sigit Hendrawan Samsu yang memberikan paparan inspiratif mengenai pentingnya kesehatan finansial.

Dalam materinya, Sigit Hendrawan menakankan pentingnya kemandirian finansial dan semangat wirausaha sebagai kunci menuju kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Disampaikan pula bahwa kesehatan, baik fisik maupun finansial, adalah fondasi utama bagi kebahagiaan dan kemampuan seseorang untuk mewujudkan impiannya. Ia menegaskan, “Kesehatan finansial sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kalau kita sakit, otomatis kondisi finansial juga akan terganggu karena kita tidak bisa bekerja. Semakin parah sakitnya, semakin besar pula dampaknya pada keuangan. Karena itu, yang utama adalah menjaga kesehatan tubuh terlebih dahulu. Kalau kalian enggak sehat, bagaimana kalian mau happy?”, tuturnya.

Sigit Hendrawan Samsu, saat menyampaikan paparan tentang pentingnya kesehatan finansial dalam kuliah khusus di Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Pada pemaparannya, Sigit Hendrawan yang merupakan seorang pengagum Prof. Satyanegara dan memiliki latar belakang sebagai penerbang pesawat, petani, dan pemilik perusahaan, membagikan pengalaman pribadinya dalam menghadapi krisis moneter tahun1998 pada bisnisnya. Krisis tersebut memicu hilangnya kepercayaan diri sekaligus masalah finansial, hingga akhirnya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian finansial di usia 40 tahun. Namun, saat memasuki masa pensiun, ia menyadari kesalahannya: berhenti berkarya justru menimbulkan stres. “Ketika saya tidak bekerja, stressnya malah muncul. Jadi saya harus berkarya, dan terus berkarya hingga akhirnya saya bisa kembali pulih dari krisis yang terjadi di tahun 2000”.

Menurut Sigit, kesehatan finansial diibaratkan sebagai “the circle of life” yang berkelanjutan, dimulai dari kelahiran hingga akhir hayat. Kemandirian finansial bukan hanya soal menabung, tetapi juga tentang berkarya untuk menciptakan suatu nilai. Sigit menekankan perbedaanya, “Kalian menabung, kalian punya uang. Tetapi jika kalian berkarya, itu berbeda, Terkadang karya itu tadi tidak bisa dinilai dengan uang,” jelasnya.

Sesi diskusi bersama narasumber Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS., dan Sigit Hendrawan Samsu dalam kuliah khusus di FK UNEJ

Sigit juga menekankan pentingnya semangat wirausaha sebagai jalur untuk mencapai kemandirian finansial dan kesejahteraan. Hal tersebut ia representasikan melalui fiolosofi jawa “Molimo Hasta Brata”. Seorang wirausahawan sejati tentunya tidak berfokus pada profit, tetapi juga mampu memberi manfaat, berpikir jauh ke depan serta mampu mebangun usaha yang berkelanjutan dan dapat memberi manfaat bagi banyak orang.

Sebagai penutup presentasinya, Sigit Hendrawan memberi pesan kepada mahasiswa yang hadir pada kuliah khusus tersebut. “Challenge yourself to change to be someone, to be somebody. Ini berarti kalian harus siap menghadapi plan B jika plan A tidak berjalan sesuai rencana. Semangat wirausaha adalah persiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan dalam hidup, bahkan jika itu berarti mencari jalan alternatif untuk mencapai tujuan”.

Kuliah khusus ini menjadi pengingat bagi mahasiswa FK UNEJ bahwa perjalanan menuju masa depan tidak selalu mulus dan sesuai rencana. Namun, dengan bekal kesehatan fisik, kemandirian finansial, serta semangat wirausaha, setiap tantangan dapat dihadapi dengan lebih bijak. Universitas Jember berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya terampil dalam bidang akademik dan medis, tetapi juga siap menghadapi dinamika kehidupan dengan mental Tangguh serta kemampuan untuk terus berkarya bagi masyarakat. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #PraktisiMengajar

]]>
FK UNEJ Hadirkan Pakar Bedah Saraf, Prof. Satyanegara, dalam Kuliah Inspiratif Ilmu Bedah Saraf https://unej.ac.id/blog/2025/09/08/fk-unej-hadirkan-pakar-bedah-saraf-prof-satyanegara-dalam-kuliah-inspiratif-ilmu-bedah-saraf/ Mon, 08 Sep 2025 13:52:27 +0000 https://unej.ac.id/?p=175809 Jember, 8 September 2025

Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ) menggelar kuliah khusus yang menghadirkan tokoh besar di dunia kedokteran Indonesia, Prof. Dr. dr Satyanegara, Sp. BS, pakar bedah saraf sekaligus Direktur Senior Tzu Chi Hospital, serta Sigit Hendrawan Samsu, pendiri PT. Mitra Tani Dua Tujuh sekaligus Dewan Penasihat Agromedis FK UNEJ. Kuliah khusus berajuk “Menggali Inspirasi dari Ilmu Bedah Saraf hingga Kesehatan Finansial” ini berlangsung di Auditorium Avicenna FK UNEJ dan diikuti secara antusias oleh seluruh mahasiswa baru dari FK UNEJ.

Sejalan dengan tema kuliah khusus yang menghadirkan pionir di bidang bedah saraf tanah air. Dekan Fakultas Kedokteran UNEJ Dr. Ulfa elfiah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran narasumber utama Prof. Satyanegara dan Sigit. “Beliau merupakan salah satu orang yang memiliki peran besar dalam pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Jember” ungkapnya. Ia juga menambahkan, “Di tahun ini, pula berkat support juga bantuan dan dukungan dari Prof. Satyanegara dan Pak Sigit, FK UNEJ sah mendirikan program studi spesialis bedah.

Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS., pakar bedah saraf, saat menyampaikan paparan inspiratif dalam kuliah khusus di Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Rektor Universitas Jember, Iwan taruna turut menyoroti pentingnya kehadiran Prof. Satyanegara, “Ini merupakan suatu kesempatan yang besar, bahwa beliau hadir di tengah-tengah kita saat ini untuk memberikan kajian dan inspirasi yang baik terkait ilmu bedah. Sesuai dengan tajuk kuliah khusus menggali inspirasi dari ilmu bedah, saya berharap kuliah khusus ini dapat membawa pelajaran dan manfaat yang baik bagi adik-adik mahasiswa semua”, tuturnya.

Pada kuliah khusus tersebut, Prof. Satyanegara membawa peserta menelusuri sejarah panjang bedah saraf. Beliau menjelaskan bahwa ilmu bedah saraf telah mengalami perkembangan signifikan dalam 2000 tahun terakhir. Prof. Satyanegara kemudian menyoroti praktik kuno seperti ‘trepanasi’ (pembuatan lubang di tengkorak manusia) yang telah ada sekitar 10.000 tahun yang lalu. “Kalau menurut perkataan turun-menurun, praktek itu dilakukan karena adanya roh jahat, sehingga tengkorak manusia harus dibuka. Sekarang kita kenal dengan istilah Kranitomi yang juga merupakan prosedur untuk bedah saraf, “imbuhnya.

Selanjutnya Prof. Satyanegara juga mengenalkan Harvey Crushing sebagai Bapak Bedah Saraf modern dari Amerika. “Ia merupakan pelopor dalam penggunaan mikroskop pada pembedahan saraf, serta berjasa besar dalam mengembangkan teknik bedah otak,” kata Prof. Satyanegara. Kemajuan ini memungkinkan diagnosis dan pengobatan yang lebih presisi terhadap berbagai kondisi, seperti trauma, tumor otak maupun pembuluh darah otak, kelainan pada sumsum tulang belakang, infeksi, stroke, serta penyakit degeneratif dan gangguan gerakan. Sebagai bukti perkembangan ilmu bedah saraf di Indonesia, Prof. Satyanegara telah menulis buku yang menjadi buku berbahasa Indonesia pertama terkait ilmu bedah Saraf.

Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS., saat menyanggah stigma bahwa perempuan tidak cocok menjadi ahli bedah saraf

Melalui cuplikan video singkat, Prof. Satyanegara menyinggung teknik operasi canggih bedah saraf seperti “awake craniotomy”, di mana pasien dibangunkan selama operasi memungkinkan dokter memantau fungsi otak secara langsung sehingga bagian yang sakit dapat diangkat tanpa merusak area yang mengatur kemampuan bicara, gerak, maupun fungsi penting lainnya. “Manusia itu saat tengkoraknya dibuka tentu terasa sakit, tetapi setelah masuk ke otak justru tidak menimbulkan rasa sakit,” jelasnya menyoroti presisi yang dibutuhkan untuk membedakan tumor dari area otak yang vital.

Pada sesi tanya jawab yang tak kalah menarik, salah satu mahasiswa mengungkapkan stigma masyarakat bahwa wanita tidak cocok menjadi dokter spesialis bedah saraf. Menanggapi hal tersebut, Prof. Satyanegara menyanggah pandangan ini. “Dibandingkan pria, wanita mempunyai kelemahan seperti siklus menstruasi yang bisa membuat mood kurang baik, kedua saat hamil mereka harus cuti 10 bulan ditamabah 3 bulan untuk menjada anak, dan lainnya. Nah dalam cuti 10 bulan tadi, pasti banyak tertinggal, dan disitulah tantangan wanita saat menjadi ahli bedah saaraf,” jelasnya.

“Ada banyak ahli bedah saraf wanita di sekitar saya, yang suaminya juga seorang dokter. Pasangan ini bisa saling mengerti akan kesibukan masing-masing dan justru bangga terhadap istrinya. Jadi jangan membatasi diri dari stigma tersebut, apabila kamu berkeinginana menjadi ahli bedah saraf silahkan, asalkan kamu mau terus belajar dan punya kekuatan untuk menjadi seorang ahli bedah saraf,” pesan Prof. Satyanegara.

Foto bersama narasumber Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS., dan Sigit Hendrawan Samsu dengan jajaran pimpinan serta sivitas Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Melalui kuliah inspiratif ini, Fakultas Kedokteran UNEJ berharap mahasiswa tidak hanya menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan yang kuat dan kesiapan menghadapirealitas dunia kerja, sehingga tumbuh menjadi dokter yang professional, berintegritas dan siap mengabdi bagi masyarakat. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #PraktisiMengajar

]]>
Kolaborasi Multidisiplin Warnai PHAC-4 & ICMHS-5 2025, Soroti Peruahan Iklim, Malnutrisi hingga Mpox https://unej.ac.id/blog/2025/09/02/kolaborasi-multidisiplin-warnai-phac-4-icmhs-5-2025-soroti-peruahan-iklim-malnutrisi-hingga-mpox/ Tue, 02 Sep 2025 10:50:14 +0000 https://unej.ac.id/?p=175744 Jember, 2 September 2025
Konferensi internasional PHAC-4 &ICHMS-5 2025 resmi dibuka pada Selasa (2/9) secara daring oleh Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna. Acara ini mempertemukan akademisi, mahasiswa dan praktisi kesehatan, serta menghadirkan narasumber dari Thailand, Malaysia, Filipina dan Jerman, membahas isu global yang meliputi perubahan iklim, malnutrisi, hingga ancaman penyakit menular seperti Mpox, yang sebelumnya dikenal sebagai monkeypox dan sempat ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan global pada 2022.

Dalam sesi perubahan iklim, Zulkhairul Naim dari Universiti Malaysia, Sabah, memaparkan presentasinya yang berjudul “Harnessing Social Innovation to Build Resilient Healthy Agro-coastal Community”. Dalam presentasinya, Naim menyoroti pentingnya inovasi sosial dalam memperkuat ketahanan komunitas masyarakat agro-pesisir. Ia mencontohkan gerakan Mangrove Guardianship di Sabah,Malaysia untuk melindungi dan memulihkan hutan bakau.

Sesi pemaparan materi oleh Zulkhairul Naim dari Universiti Malaysia

“Inovasi sosial bukan soal mencari solusi yang mencolok. Pada intinya Adalah bagaimana kita bisa menata ulang hubungan antara manusia dengan alam, generasi muda dengan yang lebih tua, ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal, serta warga negara dengan negara,” ujar Naim.

Pembicara kedua, Assoc. Prof. Kraiwuth Kallawicha, dari College of Public Health Sciences, Chulalongkorn University, Thailand mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “Climate Change and WASH for Sustainable Living in Flood-Prone Area in Northern of Thailand”. Pada presentasi tersebut Prof. Kraiwuth menguraikan dampak perubahan iklim terhadap pengelolaan WASH (Air, Sanitasi, dan Higiene) di daerah rawan banjir. Ia menekankan bahwa banjir akibat perubahan iklim dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim menjadi penting agar mereka mampu memprediksi sekaligus mempersiapkan kebutuhan air bersih ketika banjir datang

Sesi pemaparan materi oleh Prof. Kraiwuth Kallawicha dari College of Public Health Sciences, Chulalongkorn University, Thailand

“Pengelolaan air atau WASH saat banjir bukan hanya soal penanganan darurat. Lebih dari itu, ini menyangkut keberlangsungan hidup. Jika dikelola dengan baik, banyak nyawa bisa terselamatkan,” jelas Prof. Kraiwuth.

Isu malnutrisi mendapat perhatian melalui paparan Girlie Vera Cruz-Libato. dari University of San Carlos, Filipina. Penelitiannya yang berjudul “Empowering Nutrition in the Philippines: Addressing Challenges and Implementing Solution” menyoroti peran krusial institusi akademik dalam merumuskan dan melaksanakan solusi nyata untuk mengatasi masalah gizi, baik kekurangan dan kelebihan, yang masih menjadi tantangan bagi bangsa.

Mrs. Girlie Vera Cruz-Libato. dari University of San Carlos, Filipina, mengangkat tema malnutrisi dalam presentasinya.

Sementara itu, Prof. Jurgen Kurt Rockstroh, dari Bonn University Jerman, menyoroti pelajaran penting dari wabah Mpox global tahun 2002. Ia mengingatkan bahwa penyebaran penyakit lintas benua menuntut kesiapsiagaan global yang lebih baik, termasuk surveilans kesehatan, komunikasi publik yang tepat, dan pemerataan akses vaksinasi. “Wabah ini memberi kita pelajaran bahwa penyakit menular dapat dengan cepat menjadi isu dunia, sehingga kolaborasi internasional menjadi sangat penting,” tegasnya.

Prof. Jurgen Kurt Rockstroh, dari Bonn University Jerman menyoroti pelajaran penting dari wabah Mpox global tahun 2002

Melalui konferensi internasional PHAC-4 & ICMHS-5 2025, Universitas Jember menegaskan komitmennya sebagai pusat ilmu pengetahuan yang aktif menjawab tantangan kesehatan masyarakat. Melalui keterlibatan pakar lintas negara dan lintas disiplin, forum ini menjadi wadah bagi lahirnya gagasan inovatif, penguatan jejaring kolaborasi, serta solusi nyata yang diharapkan mampu memberi dampak positif, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga komunitas global. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #PraktisiMengajar

]]>
FKM UNEJ Gelar Konferensi Internasional PHAC-4 & ICMHS-5 2025: Dari Darat ke Laut, Menyatukan Kolaborasi untuk Kesehatan Masyarakat https://unej.ac.id/blog/2025/09/02/fkm-unej-gelar-konferensi-internasional-phac-4-icmhs-5-2025-dari-darat-ke-laut-menyatukan-kolaborasi-untuk-kesehatan-masyarakat/ Tue, 02 Sep 2025 06:43:03 +0000 https://unej.ac.id/?p=175734 Jember, 2 September 2025
Universitas Jember melalui Fakultas Kesehatan Masyarakat menggelar The 4th Public Health on Agro-Coastal Community (PHAC-4) dan The 5th International Conference on Medicine and Health Sciences (ICMHS-5) pada 2 September 2025. Acara yang diselenggarakan secara hibrida ini, baik tatap muka maupun virtual, bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan, memperkuat jaringan, dan mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk meningkatkan kesehatan masyarakat pesisir dan agraris.

Konferensi ini mengusung tema “Meningkatkan Luaran Kesehatan untuk Populasi Agro-Pesisir melalui Kolaborasi Multidisiplin” (Improving Health Oucomes for Agrocoastal Populations through Multidisciplinary Collaboration). Tema tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk menjawab tantangan kesehatan yang dihadapi berbagai komunitas.

Rektor UNEJ, Iwan Taruna, hadir secara virtual untuk memberikan sambutan sekaligus membuka konferensi internasional

Rektor Universitas Jember Iwan Taruna, turut menegaskan pentingnya konferensi ini. “Konferensi dengan dua tema ini sangat relevan dan esensial bagi kita,” jelasnya. “Di satu sisi, konferensi internasional kesehatan masyarakat dan komunitas agro-pesisir menjadi ruang untuk membahas tantangan sekaligus peluang dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. Di sisi lain, konferensi internasional ini dapat memperluas cakupan diskusi, sehingga mendorong kita mengatasi persoalan kesehatan yang mendesak dengan pendekatan interdisipliner, pemanfaatan teknologi baru, dan perspektif yang lebih holistik,” tambahnya.

Iwan Taruna meyakini konferensi yang digelar secara stimulan ini akan menjadi wadah di mana pengetahuan bertemu praktik, tantangan lokal bertemu dengan wawasan global, dan kolaborasi lintas bidang dapat terus berkembang. Lebih lanjut ia berharap “Semoga konferensi ini menjadi ruang diskusi yang bermakna, melahirkan kolaborasi baru, serta menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat yang lebih sehat.”

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Farida Wahyu Ningtyias menyampaikan sambutan dalam pembukaan acara

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNEJ, Farida Wahyu Ningtyias, dalam sambutannya turut menambahkan, “Populasi agro-pesisir menghadapi kerentanan yang khas, mulai dari risiko lingkungan, persoalan kesehatan, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan. Karena itu, dibutuhkan solusi yang terintegrasi dan inovatif. Saya berharap forum ilmiah ini dapat mendorong terbentuknya kolaborasi, menginspirasi penelitian di masa depan, serta memperkuta kolaborasi lintas disiplin maupun lintas negara,” ujarnya.

Konferensi yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember ini bekerja sama dengan Fakults Kedokteran, Fakultas Farmasi, serta Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, dan Fakultas Perubatan dan Sains Kesihatan Universitas Sains Islam Malaysia. Konferensi ini juga menghadirkan pembicara kunci dari berbagai negara, di antaranya Assoc. Prof. Kraiwuth Kallawicha, Ph.D (Chulalongkorn University, Thailand), Dr. Zulkhairul Naim (Universiti Sabah, Malaysia), Ms. Girlie Vera Cruz-Libato. (University of San Carlos, Filipina, dan Prof. Jurgen Reckstroth (Bonn University, Jerman). (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #PraktisiMengajar

]]>
Rasakan Langsung Metode Experiantial Learning ‘Access to Justice 2025’ FH UNEJ Pikat Peserta Internasional https://unej.ac.id/blog/2025/08/01/rasakan-langsung-metode-experiantial-learning-access-to-justice-2025-fh-unej-pikat-peserta-internasional/ Fri, 01 Aug 2025 09:54:46 +0000 https://unej.ac.id/?p=175208 Jember, 1 Agustus 2025

Fakultas Hukum Universitas Jember (FH UNEJ) kembali menjadi tuan rumah kursus internasional “Access to Justice in Southeast Asia & Beyond 2025” yang menarik perhatian luas, termasuk peserta mancanegara. Berlangsung dari 21 Juli hingga 14 Agustus 2025 di Gedung Dekanat lantai 3 FH UNEJ, program ini secara khusus berfokus pada isu krusial terkait instrumen internasional dan hak-hak masyarakat pribumi, serta mengintegrasikan teori dengan pengalaman lapangan untuk memperkuat pemahaman mengenai keadilan bagi kelompok terpinggirkan. Ini adalah kali kedua kursus internasional serupa diselenggarakan, setelah yang pertama dilakukan pada tahun 2023 oleh CHRM2 (The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration) FH UNEJ.

Tujuan utama kursus ini adalah untuk mengampanyekan pentingnya akses terhadap keadilan secara global. Dekan FH UNEJ, Prof. Bayu Dwi Anggono, menegaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan prinsip pengabdian ‘amal’ yang diusung FH UNEJ melalui tagline “Ilmu, Amal dan Integritas” dalam konteks meningkatkan akses keadilan bagi seluruh masyarakat.

“Tujuan utama dari kursus ini tentu saja selain menghasilkan peningkatan kapasitas civitas akademik, juga mengenai pentingnya bagaimana cara kita meningkatkan access to jusitce. Berangkat dari kasus di masing-masing negara, saya berharap akan lahir pembaru-pembaru hukum, aktivis, dosen dan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kepedulian terhadap akses keadilan, tetapi juga model praktis untuk meningkatkan akses keadilan di wilayah masing-masing,” imbuh Prof. Bayu.

Gerald John, peserta kursus internasional asal Filipina, memperoleh wawasan dari metode experiantial learning saat berinteraksi dengan masyarakat adat Tengger.

Keunggulan program ini terletak pada metode ‘experiantial learning’ yang sangat diapresiasi oleh peserta kursus internasional, karena formatnya disebut sebagai yang pertama kali dilakukan. Dr. Al Khanif, selaku ketua penyelenggara, menjelaskan filosofi di balik pendekatan ini, “Kita ingin menggeser paradigma dimana keadilan tidak hanya dicari melalui perspektif pasal undang-undang, namun juga melalui praktik di masyarakat. Misalnya melalui kunjungan yang akan datang ke pondok pesantren kita bisa belajar untuk memahami keadilan dalam islam”.

Kursus ini diikuti oleh 36 peserta, dengan 12 diantaranya berasal dari luar Indonesia. Mereka memiliki latar belakang studi yang sangat beragam, mulai dari hukum, ilmu politik, sosiologi, hingga ilmu komputer, data sains dan farmasi, yang menunjukkan bahwa akses keadilan adalah isu multi-disipliner.

Para peserta tentunya sangat antusias dengan metode pembelajaran yang diusung dalam kursus ini. Ashton Wu, peserta dari Singapura menyatakan “Saya menyukai metode pembelajaran eksperiensial. Menurut saya ini sangat penting dan luar biasa bisa masuk ke komunitas itu sendiri untuk menyaksikan berbagai praktik, ritual, festival, serta memahami pengalaman para pemimpin komunitas”. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini tidak mungkin didapat jika berpergian sendiri. Gerald John dari Filipina juga menggarisbawahi manfaatnya, menyebut bahwa metode ini memberikan pandangan dan perspektif lokal tentang bagaimana komunitas di Indonesia menghadapi isu akses keadilan. Ia mengimbuhkan, “Bagi saya pengalaman ini benar-benar mengikat hal-hal yang kami pelajari di kelas menjadi semacam pengalaman dunia nyata”.

Nabilla Fadia Syafa, peserta asal Indonesia yang mengikuti kursus internasional “Access to Justice in Southeast Asia & Beyond 2025” di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Nabilla Fadia Syafa atau yang akrab dipanggil Bella, peserta dari Indonesia juga meyakini bahwa metode ini membantunya lebih memahami tantangan hukum dunia nyata yang dihadapi oleh komunitas terpinggirkan. “Hal ini tentunya mendorong saya untuk berkolaborasi dengan teman sekelas, dosen, dan praktisi dari berbagai latar belakang sehingga kami dapat meningkatkan pemahaman lintas budaya”, imbuhnya.

Selain itu, kunjungan lapangan yang sudah dilakukan di beberapa komunitas, seperti komunitas Ogawa (Organisasi Gaya Warna), Tanoker dan Tengger, juga meninggalkan kesan mendalam bagi peserta kursus. Ashton merasa sesi bersama komunitas Ogawa sangat penting baginya, karena ia dapat mendengar secara langsung perjuangan yang dihadapi komunitas tersebut. Bagi Gerald yang paling terkesan baginya adalah pada saat mengunjungi komunitas di Tengger, ia berkata “di komunitas itu, banyak realisasi khususnya dalam interaksi antara komunitas agama yang berbeda dalam komunitas adat”. Sama halnya dengan Bella, ia juga menilai pengalamannya selama bertemu dengan komunitas Tengger memberikan wawasan yang unik dan mendalam tentang budaya, tradisi, dan perspektif mereka tentang keadilan dan kehidupan sosial.

Melalui kursus ini, tentunya para peserta berharap untuk dapat mengaplikasikan pembelajaran yang telah didapat di negara atau komunitas asal mereka. Ashton menekankan pentingnya pembangunan hubungan. Baginya, bertemu dengan orang-orang dari Malaysia, Vietnam, Filipina, dan tentu saja Indonesia, adalah hal yang paling penting. Ia percaya bahwa koneksi yang ia lalui selama kursus ini memperkaya pemahamannya tentang dunia dan membantunya menghubungkan perjuangan bersama, yang merupakan perspektif yang akan ia bawa pulang.

Ashton Wu, peserta kursus internasional asal Singapura memiliki kesan mendalam saat berinteraksi langsung dengan komunitas OGAWA (Organisasi Gaya Warna) di Jember.

Sedangkan Gerald berencana menggunakan pengetahuannya untuk diterapkan di komunitasnya sendiri. Ia menyoroti pentingnya memberi ruang pada isu-isu krusial. Dengan memahami tantangan umum antara komunitas di Indonesia dan negaranya, ia melihat peluang untuk berkolaborasi dan secara kolektif merubah reformasi tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat regional bahkan universal. Bagi Bella, ia memiliki tujuan spesifik menggunakan ilmu yang ia dapat untuk melindungi hak-hak masyarakat adat Osing di daerah asalnya Kota Banyuwangi.

Dalam jangka panjang, kursus ini diharapkan dapat menjadi sarana pengenalan Fakultas Hukum dan Universitas Jember kepada peserta internasional, serta memperkuat reputasi FH UNEJ di mata internasional. Dekan FH UNEJ, Prof. Bayu menyatakan optimisme bahwa kegiatan ini akan berkelanjutan dan menjadi agenda rutin di masa mendatang setelah dilakukan evalusai terhadap dampaknya. Dengan memadukan pengetahuan teoritis dengan pengalaman nyata di lapangan, kursus internasional “Access to Justice” FH UNEJ tidak hanya mendidik para pesertanya tetapi juga menginspirasi mereka untuk menjadi agen perubahan yang berempati dan terhubung secara global dalam perjuangan untuk keadilan sosial dan hak asasi manusia. (qf)

]]>