profesor – Universitas Jember https://unej.ac.id Working in Harmony, Nurturing the Future Fri, 02 Feb 2024 01:24:43 +0000 en-US hourly 1 https://unej.ac.id/wp-content/uploads/2023/09/cropped-maskable-unej-icon-1-32x32.png profesor – Universitas Jember https://unej.ac.id 32 32 Kisah Dibalik Pengukuhan Profesor UNEJ: Berawal dari Pohon Palem sampai Penemuan Obat Baru https://unej.ac.id/blog/2024/02/02/kisah-dibalik-pengukuhan-profesor-unej-berawal-dari-pohon-palem-sampai-penemuan-obat-baru/ Fri, 02 Feb 2024 01:24:43 +0000 https://unej.ac.id/?p=168587 Jember, 1 Februari 2024

Universitas Jember baru saja mengukuhkan sebanyak delapan guru besar. Dari jumlah tersebut terdapat tiga guru besar yang dikukuhkan dalam ranah yang serumpun, yaitu ilmu MIPA. Guru besar tersebut di antaranya Prof. Didik Sugeng Pambudi sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan matematika, Prof. Anak Agung Istri Ratna Dewi sebagai guru besar bidang ilmu biokimia dan Prof. Ari Satia Nugraha sebagai guru besar bidang ilmu kimia medisinal.

Prof. Didik Sugeng Pambudi menyampaikan bahwa dirinya menggeluti bidangnya sejak menempuh pendidikan sarjana, ia mengaku ada suatu kajian menarik yang membuatnya tertarik untuk mendalami bidang tersebut. Seperti halnya masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak berguna dan membosankan.

Dirinya menjelaskan bahwa dari masalah tersebut ia berusaha keras untuk membuat bagaimana agar para siswa saat ini bisa menyukai bidang matematika bahkan dapat meningkatkan prestasi siswa di Indonesia dalam bidang matematika.

Prof. Didik Sugeng Pambudi dilantik

“Kita harus berfikir bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah agar siswa menyukai matematika bahkan sampai memiliki prestasi di bidang itu. Apabila saya berhasil maka hal tersebut dapat memotivasi saya untuk terus mengembangkan pemikiran dan menyumbang hasil pemikiran untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.” ungkapnya saat diwawancarai (29/01/2024).

Ketika dia masih bingung untuk merencanakan penelitiannya, pada saat itu pula bertepatan ketika dia duduk bersama temannya berbincang-bincang tentang judul tesisnya, dia melihat jejeran pohon palem di depan ruang kuliahnya. Secara kebetulan muncul ide bagaimana mengukur tinggi pohon palem itu. Dia pikir menarik untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis Outdoor Learning Mathematics (OLM) untuk menjadi panduan guru dalam menerapkan OLM di sekolah.

“Saya pikir hal ini menarik untuk kembangkan perangkat pembelajaran berbasis OLM untuk menjadi panduan guru dalam menerapkan OLM di sekolah, khususnya untuk meningkatkan motivasi dan prestasi matematika siswa di Indonesia.” imbuhnya.

Berasal dari rumpun ilmu yang sama, terdapat guru besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) diangkat menjadi guru besar di UNEJ. Guru besar tersebut ialah Prof. Anak Agung Istri Ratna Dewi sebagai guru besar bidang ilmu biokimia. Dia mendalami bidang tersebut dan melakukan beberapa riset, salah satunya tentang enzim.

Prof. A.A. Istri Ratnadewi saat dilantik

Dalam orasinya Prof. Anak Agung Istri Ratna Dewi mengemukakan bahwa enzim berperan penting dalam banyak proses biologis yang memerlukan pemanfaatan dan konversi energi kimia bebas menjadi gaya kinetik secara berurutan untuk menyelesaikan tugas. Dia juga menambahkan bahwa enzim dianggap sebagai mesin molekuler.

“Enzim juga dianggap sebagai mesin molekuler, dikarenakan katalisis enzimatik dapat meningkatkan difusi enzim pada tingkat molekuler,” jelasnya. Selain itu produk enzim juga upaya untuk meningkatkan perannya biokonversi biomassa untuk mendukung pengolahan yang ramah lingkungan dan produk hidrolisis enzim sebagai pengembangan pangan fungsional.

Adapun metode pembelajaran juga terus dikembangkan dalam menerapkan kurikulum Outcome Based Education (OBE), yaitu sistem pendidikan yang yang berfokus pada pencapaian pembelajaran di mana pendidikan tidak hanya berpusat pada materi yang harus diselesaikan namun juga outcome.

“Metode pembelajaran yang dikembangkan meliputi Case Methode and Team Base Project. Dalam perkuliahan mata kuliah bidang biokimia melibatkan praktisi industri dalam beberapa pertemuan, untuk memberikan kesempatan mahasiswa mengetahui penerapan ilmu biokimia di industri,” tambah dosen dari FMIPA itu.

Pada saat penelitian dirinya bersama para mahasiswa FMIPA UNEJ bekerja sama dengan Universitas Airlangga. “Kami melakukan penelitian tentang enzim ini yang diikuti oleh beberapa mahasiswa kimia dan FMIPA UNEJ dan berkolaborasi riset enzim dengan Laboratorium Preteomik Universitas Airlangga,” pungkas Prof. Anak Agung Istri Ratna Dewi dalam orasinya.

Prof. Ari Satia Nugraha saat dilantik

Di sisi lain terdapat guru besar Prof. Ari Satia Nugraha yang diangkat sebagai guru besar dalam bidang ilmu kimia medisinal. Dia mendalami ilmu tersebut dan berhasil menemukan obat baru dalam penelitiannya. Usaha yang dilakukannya menghasilkan penemuan senyawa yang belum pernah dilaporkan sebelumnya yang berpotensial sebagai calon obat.

Beberapa tantangan ketika menggeluti bidangnya perlu strategi yang baik untuk dapat memilih dan memilah sampai menjadi sumber calon obat. Terdapat banyak rintangan yang dialami, hal itu tidak hanya dirasakan oleh Prof. Ari Satia Nugraha saja, namun banyak para profesor yang telah dahulu mengalaminya.

“Penemuan obat baru merupakan pekerjaan yang sangat kompleks yang membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar. Kalau kita melihat sejarah perjalanan obat kanker seperti Taxol, membutuhkan waktu dan biaya yang sangat tinggi. Penemuan yang dimulai dari proses skrining tanaman pada tahun 1955, uji klinis tahun 1980, dan diedarkan oleh Bristol Myers Squibb tahun 1990 dengan puncak keuntungan sebesar 1.2 milyar USD pada tahun 2000.” ungkap guru besar tersebut pada orasi ilmiahnya.

Beberapa strategi dalam penemuan obat juga dapat menggunakan metode pendekatan Drug Repurposing yang mana obat yang sudah beredar di pasaran, dapat dikembangkan untuk obat lain dengan fungsi yang berbeda. “Obat itu seperti statin diresepkan untuk mengurangi sintesis kolesterol dalam tubuh. Statin mempunyai kemampuan menghambat perkembangan dan proliferasi sel.” jelasnya.

Dia juga mengakhiri penjelasan dalam orasinya bahwa terdapat rintangan yang berat pada penemuan obatnya. Upaya tersebut ialah bioprospeksi tanaman obat Indonesia. “Bioprospeksi tanaman obat Indonesia merupakan tugas yang menantang dalam penemuan agen antikanker karena etnobotani tidak mampu memberikan petunjuk yang jelas mengenai kegunaan medis.” pungkasnya. (dil/adi)

]]>
Kisah Dibalik Pengukuhan Profesor UNEJ: Tiga Guru Besar Geluti Cabang Ilmu Biologi https://unej.ac.id/blog/2024/01/31/kisah-dibalik-pengukuhan-profesor-unej-tiga-guru-besar-geluti-cabang-ilmu-biologi/ Wed, 31 Jan 2024 06:52:51 +0000 https://unej.ac.id/?p=168363 Jember, 31 Januari 2024

Universitas Jember gelar acara pengukuhan guru besar yang kali ini mengukuhkan sebanyak delapan guru besar. Dari jumlah tersebut terdapat tiga guru besar yang dikukuhkan dalam bidang yang sama sekaligus, yaitu bidang ilmu biologi. Adapun nama-nama guru besar tersebut diantaranya Prof. Kahar Muzakhar, Prof. Kartika Senjarini, dan Prof. Erlia Narulita.

Uniknya ketiga guru besar tersebut selain memiliki kesamaan dalam bidangnya, juga memiliki kesamaan dalam penelitian. Adapun penelitian ketiganya sama membahas tentang sesuatu yang tidak kasat mata, yakni bidang mikrobiologi oleh Prof. Kahar Muzakhar, bidang biologi molekuler oleh Prof. Kartika Senjarini dan bidang ilmu bioteknologi oleh Prof. Erlia Narulita.

Prof. Kahar saat dikukuhkan

Berawal dari Prof. Kahar Muzakhar, dia menjelaskan bidang yang dipelajarinya lebih spesifik terhadap mikrobiologi terapan yang mana proses dimana pemanfaatan mikroorganisme dapat digunakan untuk mengelola dan memanfaatkan biomassa menjadi suatu produk. Bidang tersebut dia pelajari dengan semangat meski terdapat beberapa rintangan yang ada.

“Tantangan selalu ada dari berbagai sudut, namun dengan cukup bergairahnya dunia perkembangan pendidikan nasional selama ini maka sarana prasarana dan relatif banyaknya grant and funding penelitian, maka kami sebagai peneliti juga dapat melakukan pelaksanaan penelitian di bidangnya masing-masing secara berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui penelitiannya, dia juga akan berkontribusi sebagai pendidik akan mencoba hasil update ilmu tersebut melalui kegiatan tridarma yaitu pendidikan kepada mahasiswa, penelitian berkolaborasi dengan dosen lain dan mahasiswa, serta melakukan penerapan ilmu melalui pengabdian kepada masyarakat seluas-luasnya.

Prof. Kartika saat dikukuhkan

Berbeda halnya dengan Prof. Dr. Kartika Senjarini yang mana dia mendalami ilmu biologi yang lebih berfokus pada bidang molekuler. Dia akan berkontribusi lebih fokus terhadap kemajuan biologi yang mana sangat bergantung terhadap pemahaman biologi molekuler. Adapun pengaplikasiannya terdapat diberbagai bidang seperti kesehatan, pertanian, pangan dan lingkungan.

Dalam ilmu yang Prof. Kartika Senjarini pelajari, selalu membuatnya berimajinasi dan berimprovisasi serta membuat berbagai model untuk menjadikan pribadi lebih kreatif dan memberi pemahaman bagi orang lain terhadap hal tersebut. “Memberikan model pembelajaran yang baik untuk memberi pemahaman terhadap orang dan bisa membuat diri saya sendiri bisa berfikir lebih kretif lagi,” jelasnya.

Dia juga menambahkan dalam perjuangan yang dia usahakan sampai saat ini tidak luput dari dukungan jajaran keluarga tercinta. “Saya tidak akan mencapai tahapan ini jika tidak didukung oleh keluarga seperti suami dan anak anak saya, jadi capaian saya sebenarnya adalah capaian mereka juga,” imbuhnya.

Prof. Erlia saat dikukuhkan

Tidak kalah menarik dari jajaran kisah dan perjuangan para guru besar yang telah resmi menjadi guru besar UNEJ ini. Prof. Erlia Narulita selaku guru besar yang termuda di antara 7 guru besar lainnya, menekuni ilmu bioteknologi yang fokus terhadap bakteriofag bidang kesehatan dan rekayasa genetika. Dia menceritakan proses perjuangan saat penelitian, pada proses tersebut terdapat banyak rintangan yang dialami. Peneliatiannya hampir dua tahun lamanya tidak mendapatkan hasil dan banyak memakan waktu disaat melakukan pengamatan. Banyak proses dan usaha yang telah dilakukan demi mendapatkan hasil pada penelitiannya.

“Saat itu hampir setiap hari menangis, dan merasa apakah saya salah memilih jurusan, sering menyalahkan diri sendiri mengapa kok memilih jurusan yang sulit dan banyak mengapa mengapa yang lain. Tapi karena terbawa kultur di Jepang dimana ada pepatah terkenal di sana nanakorobi yaoki yang artinya jatuh tujuh kali bangkit delapan kali, jadi terus memotivasi diri sendiri untuk tidak menyerah dan selalu berprasangka baik sama Allah.”

Pada perjuangannya para keluarga turut memberi dukungan sampai dia mendapatkan gelar profesor. Dari dukungan tersebut merupakan sumber kekuatan baginya untuk terus berproses hingga saat ini. “Keluarga memberikan dukungan yang sangat besar dalam pencapaian gelar profesor ini, suami dan anak menjadi sumber kekuatan saya, mereka memahami dan mau menerima saat waktu kebersamaan dengan keluarga berkurang karena kesibukan saya di kampus. Ayah dan ibu menjadi motivator, terutama ayah yang dari saya kecil selalu mengajarkan kerja keras dan komitmen untuk mencapai suatu harapan,” pungkasnya. (dil/adi)

]]>
Kisah Dibalik Pengukuhan Profesor UNEJ: Mendengar Dunia Internasional dari Radio dan Desain Indeks Kustono https://unej.ac.id/blog/2024/01/30/kisah-dibalik-pengukuhan-profesor-unej-mendengar-dunia-internasional-dari-radio-dan-desain-indeks-kustono/ Tue, 30 Jan 2024 07:04:44 +0000 https://unej.ac.id/?p=168225 Jember, 30 Januari 2024

Universitas Jember sebagai lembaga pendidikan tinggi yang terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas akademiknya, telah resmi melantik delapan guru besar baru. Dua di antaranya berasal dari rumpun ilmu sosial-humaniora (soshum). Keberadaan dua guru besar dalam rumpun soshum ini mencerminkan komitmen UNEJ untuk terus menghadirkan kepakaran yang tidak hanya melibatkan aspek teknis dan sains, tetapi juga aspek-aspek sosial dan kemanusiaan yang mendalam.

Prof. Abubakar Eby Hara dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik diangkat sebagai guru besar dalam bidang hubungan internasional. Keputusannya untuk fokus menggeluti bidang hubungan internasional ternyata bukan tanpa alasan, Sedari kecil Eby, nama panggilannya, sudah tertarik dengan ilmu politik dan hubungan internasional karena terinspirasi dari sang ayah.

“Setiap pagi, saya ingat itu pukul 06:15, ayah saya selalu memutar berita dunia dari radio BBC Inggris siaran berbahasa Indonesia. Kalau beliau berhenti mendengar siaran BBC Inggris, saya mengikuti siaran radio lainnya seperti Netherlands Hilversum, Radio Australia dan Radio Peking yang menyiarkan siaran berita berbahasa Indonesia.” ungkap Prof. Abubakar Eby Hara.

Disitulah disiarkan perkembangan dunia internasional, semenjak saat itu ia menjadi tertarik mendengar berbagai peristiwa dunia dan menekuni bidang hubungan internasional sampai menyelesaikan S3 dan menjadi profesor. Prof. Abubakar Eby Hara merasa bidang hubungan internasional sangat luas dan mencakup isu-isu global yang dinamis. Meskipun dalam era globalisasi ini orang mungkin menganggap bahwa isu-isu dunia tidak terlalu penting, namun sebenarnya terlibat dalam isu-isu global itu perlu karena hal ini membentuk dasar untuk menjalin hubungan antarnegara yang berkelanjutan dan stabil.

Prof. Abubakar Eby Hara saat dilantik

“Studi ini sangat mulia karena mencoba mencari sebab konflik dan mencari jalan untuk perdamaian dunia tidak hanya dalam bidang politik, tapi juga ekonomi, sosial dan budaya.” jelas Prof. Abubakar Eby Hara.

Selama menyelesaikan pendidikan profesornya ia menemui banyak kesulitan terutama mendapatkan data dari tangan pertama yakni dari narasumber di dalam negeri. Kendala ini muncul karena beberapa faktor, seperti ketidakmampuan untuk mengakses informasi secara langsung, keterbatasan dalam mendekati dan mendiskusikan topik dengan narasumber, atau bahkan ketidaksetujuan dari pihak yang bersangkutan untuk memberikan data yang dibutuhkan. Namun hal itu tidak menjadi penghambat Prof. Abubakar Eby Hara dalam menyelesaikan penelitiannya, ia terus mengingat bahwa banyak yang memberikan doa dan dukungan kepadanya seperti keluarga.

“Keluarga sangat mendukung bahkan mendorong baik karir maupun minat studi saya. Bapak adalah inspirator saya sehingga tertarik pada bidang HI.” jelasnya. Sebelum mendapatkan gelar profesor sang ayah selalu menanyakan kepadanya kapan anaknya itu menjadi seorang profesor, namun ketika kini ia sudah berhasil mendapat gelar profesor sang ayah sudah berpulang dan belum sempat menyaksikan putranya itu mengenakan jubah guru besar.

Melalui penelitian yang dilakukan, kontribusi yang dapat diberikan oleh Abubakar kepada dunia pendidikan dan penelitian yaitu membangun cara berpikir yang terbuka untuk menghadapi perkembangan dan persaingan global. Dengan menerapkan cara berpikir yang terbuka, kita dapat merangkul keberagaman ide, nilai, dan perspektif yang muncul dari berbagai sudut pandang di seluruh dunia.

“Ini bukan hanya tentang memahami perbedaan, tetapi juga tentang menerima dan memanfaatkannya sebagai sumber inovasi dan pemecahan masalah. Dengan menerapkan sikap terbuka dan inklusif, kita tidak hanya melihat diri kita sebagai individu atau anggota kelompok tertentu, tetapi sebagai bagian dari masyarakat global yang saling terkait.” ungkapnya.

Berbeda dengan Prof. Abubakar Eby Hara yang menggeluti bidang hubungan internasional, sosok satu ini juga tidak kalah menginspirasi publik melalui karya-karyanya. ia berhasil mendesain dan mendesiminasi Indeks Kustono sebagai salah satu alternatif indeks untuk mengukur adanya tindakan perataan penghasilan.

Prof. Alwan Sri Kustono dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis diangkat sebagai guru besar dalam bidang akuntansi manajemen. Ia mengungkapkan ketertarikannya di bidang akuntansi manajemen karena bidang ini memiliki peran yang sangat penting sebagai roh stratejik dalam organisasi, baik dalam bisnis maupun organisasi non laba. Sebagian besar informasi strategis diputuskan berdasarkan informasi akuntansi manajemen.

Organisasi sebagian melihat bahwa akuntansi adalah beban, karena hanya melihat produknya laporan keuangan untuk tujuan pelaporan dan perpajakan. Padahal fungsi akuntansi adalah penyedia dokumen administrasi.

Dalam menyelesaikan studi profesornya terutama ketika melaksanakan penelitian Prof. Alwan Sri Kustono menemui kesulitan dalam hal keterbukaan data terutama keuangan dan pemahaman perilaku organisasi bahwa akuntansi sebagai strategic action yang masih perlu ditingkatkan hal ini menyebabkan adanya hambatan ketika melakukan penelitian, kajian ilmiah, atau saat memberi konsultasi.

Meskipun begitu, semangatnya tak pernah surut berkat dukungan dari keluarga, “Keluarga sangat mendukung dengan memberikan keleluasaan waktu, dana, dan semangat untuk mencapai gelar ini.” ujar Prof. Alwan Sri Kustono.

Sehingga melalui penelitiannya ia berhasil mendesain dan mendiseminasi Indeks Kustono sebagai salah satu alternatif indeks untuk mengukur adanya tindakan perataan penghasilan. Prof. Alwan Sri Kustono mengatakan dalam dunia pasar dan audit, harapan akan kemunculan pendeteksi rekayasa laba yang praktis dan akurat semakin besar.

“Pasar dan auditor menunggu munculnya pendeteksi yang praktis dan akurat untuk mendeteksi rekayasa laba. Menjadi inspirasi tersendiri bagi saya dalam mengembangkan instrumen baru dalam bentuk Indeks Kustono pada tahun 2011, yang khusus dirancang untuk mendeteksi income smoothing, menjadi respons terhadap kebutuhan mendesak akan alat yang mampu memberikan deteksi yang handal terhadap praktik rekayasa laba.” ungkapnya.

Prof. Alwan Sri Kustono saat dilantik

Langkah awal ini diharapkan dapat menginspirasi peneliti di bidang akuntansi untuk aktif dalam membangun, menyempurnakan, memverifikasi, dan mengembangkan instrumen-instrumen pengukur manajemen laba yang memiliki tingkat presisi tinggi, efisien secara ekonomi, serta mudah digunakan.

Dengan demikian, bertambahnya dua guru besar dalam rumpun sosial humaniora di UNEJ ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga perwujudan nyata dari semangat universitas untuk menjadi pusat keunggulan yang berdaya saing global dalam era pengetahuan yang terus berkembang. (dil/na)

]]>